This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Selasa, 10 September 2013

Sukses mempopulerkan fesyen dari songket (1)

 Sukses mempopulerkan fesyen dari songket (1)
Kecintaan pada kain tradisional songket membawa Nyanyu Nur Komariah sukses berbisnis fesyen. Di bawah bendera Rumah Songket Adis, ia ikut melestarikan serta mempopulerkan kain songket hingga ke luar negeri.

Perempuan yang akrab disapa Adis ini merintis bisnis kain khas Palembang itu sejak tahun 2007 silam. Namun, tidak seperti kebanyakan pengusaha songket lainnya di Palembang, Adis tidak hanya berkutat pada kain songket. Ia juga memproduksi jumputan, yang juga kain tradisional Palembang.

Bahkan, kain tersebut diolahnya menjadi selendang dan pakaian. "Desainer ternama sudah sering memakai kain tradisional untuk pakaian rancangan mereka, jadi saya pikir, saya bisa mengikuti jejak mereka," kisahnya.

Semua pakaian yang diproduksi di Rumah Songket Adis merupakan desainnya sendiri. Maklum, kata Adis, keberadaan desainer songket masih sangat minim. Kebanyakan pengusaha kain hanya memproduksi songket dan jumputan.

Pakaian songket buatan Adis laris manis di pasaran. Dalam sebulan, ia bisa menghasilkan 150 - 200 item baju dari bahan songket. Selain itu, songket masih menjadi favorit yang dicari konsumen. Buktinya, Rumah Adis Songket bisa menjual sekitar 50 kain songket dalam sebulan.

Perempuan kelahiran Palembang, 29 tahun silam ini menuturkan, ia fokus pada produksi kain untuk segmentasi kelas menengah ke atas. Makanya, ia menggunakan benang kualitas pilihan.
Tak heran, harga jualnya pun terbilang tinggi. Satu lembar songket dibanderol Rp 3 juta hingga Rp 15 juta. Meski begitu, ia juga memproduksi songket dengan kualitas benang nomor dua. Harganya lebih murah, berkisar Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta.

Sementara, satu potong pakaian dari kain songket dilego mulai dari Rp 600.000 sampai Rp 4 juta. Adis juga membuat baju kombinasi songket dan bahan kain seharga Rp 1 juta. Oleh karena mendesain sendiri, setiap baju yang diproduksi Adis bisa disebut edisi terbatas. "Jadi, tidak akan ada toko lain yang produksi baju yang persis sama," klaimnya.

Sekitar 80% pelanggan Rumah Songket Adis ialah perempuan. Namun, ia memiliki pelanggan di Malaysia yang kerap membeli selendang dan kemeja kombinasi untuk laki-laki. Hingga kini, sejumlah public figure pernah memakai desain songket karyanya, seperti Mooryati Soedibyo, Anwar Fuadi, dan Izabel Jahja.

Adis mendistribusikan produknya melalui sistem reseller untuk kain songket. "Saya sudah mulai sistem ini sejak empat tahun lalu, reseller saya kebanyakan di kota besar, seperti Jakarta, Medan, Bandung, dan Riau," ucapnya.

Demi memperluas pemasaran, Adis rajin ikut pameran dan promosi di majalah, serta mengikuti pameran fesyen di berbagai daerah di Indonesia. Tak heran, ia bisa mengantongi omzet Rp 150 juta-Rp 200 juta sebulan.

Alhasil, Ia pun terpilih menjadi salah satu pemenang Wirausaha Muda Mandiri untuk kategori Kreatif pada 2012 silam. (Bersambung)  
sumber Kontan

LIPI luncurkan telepon pintar `Bandros` Anti Sadap

bandros lipi di indonesiaproud wordpress com Ponsel ini dipakai untuk kegunaan khusus, salah satunya bisa diatur sebagai telepon anti sadap
 
Jakarta (ANTARA News) - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia meluncurkan ponsel pintar Bandros atau Bandung Raya Operating System sebagai salah satu hasil penelitian unggulan.

"Ponsel ini dipakai untuk kegunaan khusus, salah satunya bisa diatur sebagai telepon antisadap," ujar Kepala Pusat Penelitian Informatika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) LT Handoko di Puspiptek Tangerang Selatan, Senin.

Sebagai ponsel pintar yang dapat diatur menjadi antisadap, maka ponsel ini hanya dipakai untuk kegunaaan khusus terutama untuk segmen pemerintahan.

Handoko menjelaskan bahwa LIPI membuat ponsel pintar ini sesuai dengan pesanan dan kebutuhan serta fungsi, dan ditujukan untuk pemerintah serta korporat.

Lebih lanjut Handoko memaparkan bahwa para peneliti LIPI mengembangkan piranti lunak Bandros pada awalnya ditujukan untuk pasien rumah sakit dan pemberian informasi perihal sistem peringatan dini.

Handoko sebagai ketua tim penelitian pengembangan Bandros menjelaskan bahwa ponsel cerdas tersebut menggunakan sistem operasi (OS) `open-source` berbasis Linux.

Penelitian sistem operasi ini baru dimulai pada 2010, dengan melakukan penelitian tergadap perangkat sistem tertanam.

Sistem operasi tersebut dia jelaskan sebagai pengembangan dari sistem operasi `desktop` yang sudah diciptakan sebelumnya.

"Sistem operasi Bandros dikenalkan kepada masyarakat diawali dengan pengembangan Stasiun Pemantau Cuaca," jelas Handoko.

Pengembangan sistem operasi ponsel ini dibiayai oleh APBN melalui Dipa Pusat Penelitian Informatika - LIPI, dengan dana awal yang direncanakan Rp250 juta namun pada akhirnya hanya sekitar Rp50 juta yang diberikan dengan alasan penghematan anggaran. (M048/Z002)

Editor: B Kunto Wibisono

sumber Antara

Membuat Telinga Tiruan dari Tulang Rawan Domba

Gambar di atas memperlihatkan bagaimana proses pembuatan telinga buatan dari tulang rawan domba yang dikembangkan para peneliti dari Massachusetts General Hospital. Telinga buatan ini diharapkan akan membantu mereka yang mengalami cacat bawaan.
Keinginan untuk bisa membantu orang yang memiliki cacat bawaan membuat para ilmuwan berusaha menghasilkan alat bantu. Yang terakhir, ilmuwan berhasil membuat telinga buatan yang serupa dan bekerja layaknya telinga manusia asli, hanya dengan menggunakan printer3D dan tulang rawan domba.

Telinga buatan ini diciptakan oleh Thomas Cervantes, dari Massachusetts General Hospital, bersama koleganya. Telinga model digital dalam bentuk 3D ini dirancang dan diciptakan dari bantuan para ahli bedah plastik wajah yang membantu penelitian ini guna mendapatkan bentuk dan proporsi yang sesuai. Model ini dibuat dengan menumbuhkan beberapa sel tulang rawan domba yang kemudian disesuaikan dalam model kustom di bawah kulit tikus untuk percobaan.

Kemudian seuntai kawat diselipkan dalam cetakan guna memberikan implan bentuk, dan membuatnya menekuk agar lentur layaknya telinga manusia. ”Semua implan dapat diterima dengan baik. Implan dipasangi kawat agar dapat menyerupai telinga manusia sempurna, sedangkan implan tanpa kawat nantinya akan terdistorsi,” ujar Cervantes, seperti dikutipDaily Mail. Kemudian, model yang telah dihasilkan dicetak dalam polydimethylsiloxane, senyawa silikon khusus untuk membuat cetakan yang terbagi sepanjang kontur luar, sehingga memiliki dua bagian.

Sementara itu, cetakan diisi dengan kolagen sapi yang memiliki protein alami guna memberikan elastisitas kulit dan kekuatan. Lalu, semuanya digabungkan dengan memanen sel tulang rawan domba. ”Hasilnya, permukaan di kedua sisinya terlihat putih berkilau, dan terlalu mirip dengan tulang rawan. Telinga buatan yang dikonstruksikan dengan kerangka kawat tertanam telah meningkatkan ukuran dan bentuk asli. Implan yang fleksibel,” lanjut Cervantes.

Menurut ilmuwan yang terlibat, model telinga buatan ini dapat didefinisikan bahwa mempunyai muatan yang cukup dalam kurva dan garis bahkan ketika menjadi satu dengan lapisan kulit. Agar telinga buatan ini dapat diaplikasikan dalam operasi transplantasi, kini para ilmuwan tengah bersiap untuk melakukan uji klinis. Dengan penyesuaian teknologi, ilmuwan percaya dan mengklaim bahwa akhirnya mereka bisa menggunakan proses dalam temuannya ini untuk menghasilkan telinga yang begitu nyata untuk pasien yang membutuhkannya dalam rentang waktu yang cepat.

”Kini telah dikembangkan teknologi untuk uji klinis, karena dengan demikian kita dapat meningkatkan dan mendesain ulang fitur yang menonjol guna menyesuaikan ukuran telinga manusia dewasa dan mempertahankan penampilan estetika bentuk mereka setelah implantasi dilakukan,” ujar para peneliti. Temuan yang telah diterbitkan dalam Journal of Royal Society Interface ini menjelaskan, setiap tahun ribuan anakanak lahir dengan kelainan bawaan yang disebut dengan microtia (kelainan pada telinga ketika telinga eksternal belum sepenuhnya terbentuk).

Selain itu, banyak pula yang memiliki telinga utuh namun mengalami kehilangan pendengaran karena struktur eksternalnya hilang. ”Hasil analisis yang berbentuk kuantitatif ini telah mengidentifikasi peluang untuk memperbaiki bentuk dalam rekayasa konstruksi telinga,” papar peneliti.

Sebelumnya, tim yang sama telah melakukan sebuah penelitian dengan bukti konsep menggunakan sel tulang rawan dari tikus yang dicetak memakai kolagen berbentuk telinga. Namun, ini hanya dianalisis dalam bentuk 2D. wenny juanita

Pemimpin harus tahu saat bisnisnya sudah cukup

 Pemimpin harus tahu saat bisnisnya sudah cukup
Berbeda dengan para pebisnis yang selalu menetapkan target bisnis setiap tahun, saya memilih tidak melakukannya. Saya membiarkan bisnis saya seperti air mengalir saja.
Kunci usaha saya adalah anak-anak bisa mengelolanya. Mereka betah ikut saya selama 35 tahun, bahkan ada yang 40 tahun masih terus ikut. Bagi saya, mereka bukan karyawan, melainkan anak-anak.
Ini juga yang membuat Kemchicks tetap eksis di tengah-tengah serbuan gajah-gajah ritel yang ada sekarang ini. Mereka merasa memiliki dan mengelola bisnis Kemchicks.
Saya percaya bahwa anak-anak punya kemampuan, bahkan lebih besar dari saya. Mereka bisa menentukan apa yang mereka mau. Tidak harus menjadi seperti saya.
Saya bukan tipikal pemimpin atau orang tua yang over protektif. Saya juga tak kejam ke anak-anak. Itu tidak ada dalam kamus saya. Mereka tak harus meneruskan bisnis saya. Mereka bisa memilih apa yang mereka mau.
Makanya, ketika anak saya minta sekolah perhotelan, saya mencarikan sekolah perhotelan yang terbaik di dunia, Swiss. Satunya lebih tertarik sekolah perhotelan di Singapura. Saya membebaskan mereka memilih apa yang mereka inginkan.
Apakah kemudian mereka juga terjun ke perhotelan, saya tidak tahu. Saya memilih tidak perlu ikut campur dengan urusan mereka. Bukan abai, toh saya dekat sekali dengan mereka. Itu pilihan mereka yang harus mereka pertanggungjawabkan.
Ini sama halnya saya mengelola Kemchicks. Anak-anak bekerja sesuai yang mereka inginkan dan targetkan. Kalau ingin maju, mereka akan mengupayakan. Cuma satu hal yang saya perhatikan: bisnis mereka harus sehat. Kelakuan mereka juga harus sehat. Untuk memastikan itu, saya terus memantau agar bisnis dan kelakuan mereka tetap sehat. Prinsip saya, selama mereka bahagia, saya pasti bahagia.
Anak-anak adalah produk zaman sekarang. Ini berbeda dengan anak-anak pada zaman saya. Mereka punya cara berbisnis yang berbeda dengan zaman saya. Tugas saya hanya mengalirkan budaya dari orang tua yang dialirkan ke saya dan kemudian saya teruskan ke mereka.
Saya dan anak-anak paham yang namanya bisnis ada untung dan rugi. Tidak bisa selalu untung, atau sebaliknya tidak selamanya merugi terus. Banyak pengusaha yang menjual usahanya yang dalam kondisi rugi, saya tidak begitu. Justru kalau merugi tidak saya jual karena saya tak ingin menyengsarakan orang lain. Seperti Kemfood yang saya jual, itu  perusahaan yang bagus. Banyak yang minta padahal saya tidak pernah menawarkan. Proses negosiasinya pun berlangsung sangat singkat.
Cuma, apakah itu artinya saya tidak mengalami problem dalam bisnis? Saya bilang: tidak ada bisnis yang tidak ada problem.
Logika  bisnis saya memang berbeda dari pengusaha lain. Saya percaya setiap aksi ada reaksi, ada sebab ada pula akibat. Mereka semua menuju dua arah, positif dan negatif. Dari pengalaman saya, semua bisnis menghasilkan dua arah itu. Dan, kita tidak bisa hanya mengambil satu sisi yakni  yang positif saja. Dua-duanya harus kita ambil.
Hal terpenting menjadi pemimpin adalah tahu saat sudah cukup. Tahu saat berhenti. Saya merasa, orang zaman sekarang bilang cukup itu susah. Orang yang kaya, dari bangsa atau suku apa pun, tidak ada yang merasa cukup. Mereka mau bertambah besar lagi. Saya merasa sudah cukup, dan ini membuat saya bahagia.

Laba nan cantik terselip dalam cake in jar

Laba nan cantik terselip dalam cake in jar
Pilihan wadah unik untuk mengemas kue, ternyata bisa menerbitkan peluang usaha baru. Tengok saja, cake in jar yang sedang naik daun belakangan ini. Tren baru ini pun mengantarkan laba yang semanis tampilannya.

Ide kreatif memang bisa datang dari mana saja. Apalagi, ide bisnis seputar produk makanan. Banyak hal yang bisa digali untuk menciptakan tren hingga pasar yang baru.

Salah satunya, penggalian ide seputar pilihan kemasan sebagai wadah kue atau roti, seperti yang terlihat dari cake in jar. Roti atau cake yang ditaruh dalam stoples selai ini sedang naik daun, atau banyak dipesan oleh pecinta cake tanah air.

Padahal, ide cake in jar ini berangkat dari keinginan untuk menyajikan sekaligus menyimpan kue secara praktis. “Terutama, jika cake tak langsung habis dalam sekali makan, biarpun sudah berupa potongan,” kata Carina Vega, pemilik Velvet Cakes dan Bakes, produsen cake in jar.

Selain memudahkan penyimpanan, menikmati cake yang ditaruh dalam wadah stoples ini, tidak membuat tangan kotor. Tania Erniyati, produsen cake in jar bermerek Aliyya Annah, berujar bahwa banyak pelanggan memesan cake in jar lantaran alasan lebih praktis dan sederhana. “Terutama bagi mereka yang ingin bepergian atau cake tak langsung dinikmati,” tambah dia.

Selain itu, karena dikemas dalam stoples yang kedap udara, tanpa lemari pendingin, cake in jar bisa tahan selama dua hari. Sementara itu, jika disimpan di kulkas, masa simpan bisa lebih lama atau hingga dua minggu. Jenis cake yang bisa dikemas dalam stoples selai biasanya adalah jenis butter cake karena teksturnya pas, tidak terlalu keras dan tidak terlalu lembut.

Penggemar cake in jar pun terus bertambah. Tania bisa melayani pemesanan sekitar 40  stoples hingga 50 stoples cake in jar dalam sehari. Ia membanderol produknya mulai Rp 30.000 untuk semua varian.

Carina mengalami situasi yang tidak jauh berbeda. Ia membuat hingga 200 stoples dalam seminggu. Banderol harga kue dalam stoples Carina Rp 35.000 per stoples.

Alhasil, mereka pun bisa mengantongi omzet mulai dari Rp 20 juta hingga Rp 24 juta dalam satu bulan. Marginnya cukup tebal. “Dalam sebulan, saya bisa mendapat untung bersih sekitar Rp 10 juta,” cetus Tania yang baru mengawali bisnis ini Mei 2012 silam.


Punya ciri khas

Usaha ini tidak membutuhkan modal yang besar. Berawal dari hobi membuat kue dan cake, Tania mengawali usaha berbekal mixer dan oven dengan kapasitas kecil. “Saat itu, semua saya kerjakan sendiri,” kata Tania yang kini dibantu oleh seorang asisten.

Ia memperoleh resep cake in jar dari hasil menjelajahi berbagai situs internet. “Saya belajar dari resep dan mengembangkan sendiri,” tutur dia. Pada awalnya, ia hanya mengandalkan promosi dari mulut ke mulut.

Baru pada Mei 2012, setelah roda usahanya berjalan makin mantap, Tania mulai menawarkan cake in jar melalui situs. Lantas, ia membeli oven lebih besar yang bisa memuat 100 stoples berukuran 250 gram, dalam sekali panggang. Waktu itu, harganya Rp 13 juta.

Sementara itu, bagi Carina, usaha cake in jar ini sejatinya merupakan pengembangan dari usaha cupcakes miliknya. Namun, kini, cake in jar yang justru menjadi andalan Carina.

Berbagai varian cake milik Carina adalah Rockball, Dulche de Leche, Cotton Candy, Noir Vixen, Vellutata di Formagio. “Konsumen banyak yang suka dengan menu Rockball kami lho,” ujar perempuan yang berjualan melalui situs www.velvetcakesandbakes.com dengan bangga. Menu cake in jar lain yang diandalkan Carina dan sudah akrab di lidah adalah Rainbow dan Red Velvet.

Kiprah Tania beda lagi. Melalui situs www.dapuraliyyaanahla.blogspot.com, ia menawarkan beberapa menu jar cake seperti Choco Malt Cream, Choco Overdark, Black Forest, Double Chocolate, Choco Velvet, Cake Pumpkin hingga cake pisang. “Ciri khas saya adalah cake in jar yang tidak menggunakan perasa dan pewarna buatan. Jadi saya menggunakan perasa dan pewarna alami dari buah-buahan dan dari cokelat langsung,” tambah Tania.

Rajin belajar resep melalui internet atau dari pemain yang sudah berpengalaman akan mengayakan varian cake in jar milik Anda. Jangan lupa, pilih ciri khas Anda dalam berjualan cake in jar ini agar konsumen makin tertarik.

Bahan utama dalam pembuatan cake in jar ini tidak jauh berbeda dengan cake lainnya. Nah, untuk stoplesnya, sebaiknya pilih jenis yang kedap udara. “Pilih stoples untuk ASI saja, biar kualitasnya bagus dan memiliki tutup yang rapat,” terang Tania. Ia biasa membeli stoples-stoples ini di toko pecah belah, seperti Kedaung.

Karena sampai saat ini kebanyakan pebisnis cake in jar hanya melayani pesanan, urusan pengantaran menjadi penting. Tania maupun Carina berpesan, mencari jasa kurir yang bisa diandalkan untuk mengantar cake in jar ke pelanggan. “Karena tidak semua konsumen bisa mengambil,” kata Tania.

Sebaiknya, pilih kurir yang khusus menyediakan jasa pengiriman kue. Jasa kirim ini berkisar Rp 25.000 untuk alamat di dalam Jakarta serta antara Rp 50.000 hingga Rp 75.000 di untuk kawasan Jabodetabek.

Jika belum membuka gerai sendiri, untuk mengenalkan produk ke pasar, ada baiknya rajin mengikuti pameran kuliner yang bisanya diselenggarakan di pusat-pusat belanja. Cara lainnya adalah menerima pesanan skala besar. Berikan diskon jika diperlukan.

Jurus ini yang dijalankan Carina. Saat ini, ia juga menerima order dari hotel dan acara pesta. “Bisa saya hias dan beri nama sesuai dengan pesanan mereka kok,” papar Carina.

Bentuk yang unik dan sedap dipandang mata, membuat produk ini cocok untuk dijadikan hadiah. Tak jarang konsumen meminta kepada Carina dan Tania untuk menyelipkan kartu dan hiasan di kue pesanan mereka yang bertuliskan pesan seperti ucapan selamat ulang tahun dan banyak lagi. Tak sungkan, mereka menyediakan fasilitas kartu dan pita jika ada permintaan khusus seperti itu. ”Asal pintar mengombinasikan warna saja,” ujar Tania.  

sumber kontan

Minggu, 25 Agustus 2013

Mobil Surya ITS siap berlaga di Australia

 
Mobil Sapu Angin Tim Sapu Angin (SA) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melakukan uji coba pada mobil berkonsep formula, "Sapu Angin Speed" (SAS) ketika peluncuran di Gedung Rektorat ITS, Surabaya, Jatim, Jumat (23/8). SAS merupakan generasi pertama dari proyek mobil formula karya mahasiswa ITS untuk mengikuti ajang "Student Formula Japan" (SFJ) 2013 pada 3-7 September 2013 di Ogasayama Sport Park, Shizuoka, Jepang. (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat) ()

Surabaya (ANTARA News) - Mobil bertenaga surya generasi keempat berjuluk "Widya Wahana Sapu Angin" yang merupakan karya mahasiswa Jurusan Teknik Mesin ITS siap berlaga dalam kompetisi "World Solar Challenge 2013" di Australia pada 6--13 Oktober 2013.

Kesiapan itu ditandai dengan peluncuran "Widya Wahana Sapu Angin" atau "Sapu Angin Surya" oleh Rektor ITS Prof Dr Ir Tri Yogi Yuwono DEA di halaman Rektorat ITS Surabaya, Sabtu.

"Tidak ada target resmi dari ITS. Bisa mencapai finish saja, kami sudah bersyukur," kata Prof Tri Yogi dalam peluncuran itu, didampingi tim mahasiswa dan dosen pembimbing proyek Widya Wahana Sapu Angin, Dr Muhammad Nur Yuniarto.

Ia memberikan apresiasi yang cukup tinggi terhadap karya sivitas akademika kali ini, sebab lahirnya "Widya Wahana Sapu Angin" mewujudkan mimpi para pendahulu ITS untuk berlaga di kejuaraan mobil surya internasional.

"Tidak ada alasan bagi mereka untuk minder dengan kontingen dari negara lain, karena Widya Wahana Sapu Angin merupakan kontingen satu-satunya dan yang pertama dari Indonesia dalam kompetisi tersebut. Harumkan nama ITS dan Indonesia di Australia," katanya.

Dalam kesempatan itu, dosen pembimbing Dr Muhammad Nur Yuniarto meyakini "Widya Wahana Sapu Angin" berbeda dengan tiga mobil surya sebelumnya, karena Widya Wahana generasi keempat itu hampir pasti berangkat ke Australia.

Dosen Jurusan Teknik Mesin ITS itu menambahkan proyek pembuatan mobil surya itu menyerap dana yang tidak sedikit, karena komponen mobil yang digunakan merupakan kualitas terbaik yang ada di pasaran.

"Dana Rp 700 juta yang terserap, sebagian besar untuk membeli sel surya dan motor. Sel surya tersebut memiliki efisiensi yang cukup tinggi hingga 22,5 persen," katanya.

Selain itu, kontingen tunggal Indonesia dalam ajang "World Solar Challenge 2013" itu juga dilengkapi dengan baterai yang memiliki daya simpan hingga 5 KW.

Untuk kecepatan dari "Widya Wahana Sapu Angin" atau "Sapu Angin Surya" itu sendiri bisa mencapai 100 kilometer per jam. "Jadi, kami optimistis bisa mencapai finish, karena finish dalam kejuaraan itu hanya memerlukan kecepatan 80 kilometer per jam," katanya.

Sementara itu, Manajer "ITS Solar Car Racing Team" Agus Mukhlisin menjelaskan pihaknya menargetkan masuk 10 besar dalam lomba mobil surya tingkat dunia yang pertama kali diikuti tim ITS itu.

"Sebagai satu-satunya wakil Indonesia dalam lomba mobil surya yang tahun 2013 diikuti 47 tim dari 26 negara itu, kami ingin membuktikan bahwa mahasiswa Indonesia mampu bersaing dengan tim-tim dari perguruan tinggi ternama seperti Tokai University, Michigan, Stamford University, MIT, dan sebagainya," katanya.(*)

Rabu, 21 Agustus 2013

Indonesia Rancang Persinyalan Kereta Api Berbasis Komputer

 
Kereta api melintas meninggalkan Stasiun Jatinegara, Jakarta Timur, Jumat (29/3/2013).
 Di tengah-tengah kemajuan teknologi transportasi perkeretaapian dunia yang semakin maju, dan melihat kondisi dalam negeri yang masih banyak bergantung akan produk-produk impor, ternyata masih ada industri perkeretaapian lokal, PT Len-Industri, yang cukup serius mengembangkan teknologi persinyalan kereta api.

Bermodal pengalaman dan keyakinan, mereka mengembangkan teknologi persinyalan dalam waktu cukup lama untuk menguasai teknologi ini. Saat ini, produk mereka yang terbaru merupakan hasil kerja sama konsorsium antara PT Len-Industri dengan Kementerian Riset dan Teknologi dan Kementerian Perhubungan dibantu oleh ITB, ITS, dan BPPT.

Produk persinyalan terbaru ini menggunakan teknologi CBI (Computer Based Interlocking) atau SIL03 (System Interlocking Len untuk seri yang ke-3) dalam serial produk yang dimiliki PT Len-Industri.

Produk ini mempunyai karakteristik dalam penghematan komponen dan peningkatan TKDN sampai 60 persen. Prototipe produk CBI yang pertama telah berhasil di-launching oleh Menteri Perhubungan bersama-sama Menteri Negara Riset dan Teknologi pada bulan Desembar 2012 di stasiun Gumilir, Cilacap. 

Sejak dipasang sampai sekarang, produk ini mengalami beberapa kali improvement. Ini semua merupakan bagian dari pengujian dan improvement teknologi yang memang seharusnya dijalankan untuk mematangkan teknologi tersebut.

Baru-baru ini teknologi ini juga mendapatkan penghargaan yang cukup penting di lingkungan Kementerian BUMN dengan masuk kategori “The Best Technology Innovation of Infrastructure Sectors”.

Sebuah penghargaan yang diberikan oleh Kementerian BUMN untuk produk-produk yang dihasilkan oleh industri BUMN. Sebuah penghargaan yang cukup memotivasi industri untuk mengambil peran dalam pengembangan teknologi.

Bagi Kemenristek, momen tersebut menjadi pembuktian bahwa apa yang dilakukan Kemenristek dengan program konsorsiumnya sudah terbukti benar dan membuahkan hasil. Model ABG (Academic, Business, and Government) seperti ini dapat diterapkan untuk pengembangan produk-produk yang lain.

Secara nasional kebijakan Kemenristek dalam pengembangan teknologi di industri akan meningkatkan peran industri tersebut dalam peningkatan daya saing. (ad5-dep4/ humasristek)
Sumber: Humas Ristek
Editor: Reza Wahyudi