This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Selasa, 10 September 2013

Puzzle dari Limbah Kayu

Tak semua mainan anak bersifat mendidik. Orang tua memang harus selektif memilih mainan yang tepat bagi si buah hati. Berbekal hal ini, Jumadi menciptakan puzzle sebagai mainan perangsang otak si kecil. Tak disangka, mainan dari limbah kayu ini laris sampai luar negeri.
Bisnis yang berkaitan dengan kebutuhan anak, termasuk mainan anak, jelas merupakan bisnis menjanjikan. Selama manusia masih berkembang biak di muka bumi ini, maka bisnis yang menyasar anak-anak sebagai konsumen tak akan pernah kehilangan pembeli. Sudah begitu, setiap anak pasti membutuhkan mainan.
Biasanya para orang tua tak keberatan keluar duit untuk membelikan mainan untuk sang buah hati. Bahkan, ayah bunda rela keluar duit banyak jika mainan tersebut bisa merangsang kecerdasan si kecil. Masalahnya, bukan perkara mudah mencari mainan anak yang mendidik. Beberapa jenis mainan malah membuat anak semakin konsumtif.
Bagi Jumadi, seorang pengusaha asal Bantul, Yogyakarta, kondisi tersebut adalah sebuah peluang bisnis. Dia pun membuat mainan puzzle sebagai salah satu mainan alternatif bagi anak. Tak disangka, puzzle berbahan kayu jati buatannya laris manis. Jumadi pun bisa meraup omzet ratusan juta rupiah saban bulannya.
Awalnya, Jumadi merupakan pengusaha mainan anak-anak dan barang rumah tangga dari tempurung kelapa. Waktu itu masih tahun 1991 dan umur Jumadi baru menginjak 36 tahun. Sayang, bisnis kerajinan tempurung kelapa Jumadi kurang berkembang.
Ia pun mencari peluang bisnis lain. Tapi lagi-lagi dia tertambat pada bisnis mainan anak. Muasalnya, tahun 1994 ia bertemu dengan Puji Santoso, yang ternyata gemar menciptakan puzzle kayu berbentuk bola. Darah bisnis Jumadi langsung berdenyut kencang melihat ide bisnis tersebut. Ia pun mengajak rekannya bergabung dalam perusahannya yang dinamakan Jatisae Handicraft.
Seiring berjalannya waktu, Jumadi ikut menciptakan kreasi berbagai puzzle. Modalnya adalah ketekunan dan pantang menyerah untuk terus mencoba menciptakan model puzzle baru, ujarnya seerti dikutip Kontan.
Puzzle buatan Jumadi memang unik. Ada yang berbentuk bola, kubus, silinder, dan sebagainya. Semuanya terbuat dari bahan baku kayu limbah pabrik mebel di Semarang. Setiap bulan saya butuh lima truk limbah kayu. Harga per truknya Rp 5 juta, ujarnya.
Di bengkel kerjanya, Jumadi dibantu 30 karyawan mengolah limbah kayu menjadi puzzle. Ada sebelas tahapan membuatnya, ujar Jumadi. Ada tahap pemotongan, pencetakan, pengamplasan, sampai tahap memperhalus serat kayu.
Saat ini Jumadi bisa membuat 156 jenis puzzle dengan kapasitas produksi 33.000 unit per bulan. Seluruh produksinya itu habis terjual. Harga puzzle-nya beragam mulai dari Rp 3.000 hingga Rp 150.000 per unit, tergantung ukuran dan tingkat kesulitan membuatnya. Omzet saya per bulan sekitar Rp 100 juta, katanya. Dari omzet segitu, Jumadi mengaku menikmati margin sekitar 30 persen-35 persen.
Usaha puzzle milik Jumadi perlahan tapi pasti terus berkembang. Salah satu kiatnya, ia rajin mengikuti pameran dan festival di Jakarta maupun di kampung halamannya, Yogyakarta. Dengan cara ini, ia kerap mendapatkan pembeli dari luar kota dan luar negeri. Antara lain dari Bali, Surabaya, serta Singapura, Prancis, dan Malaysia. Kebanyakan, pembeli dari Bali-lah yang menyalurkan puzzle saya ke negara-negara tersebut, ujarnya.
Sejak 2001, Jumadi juga berinovasi dengan membuat alat musik, seperti jimbe, gendang, dan alat musik suku aborigin, didgeridoo. Bahan bakunya dari kayu mahoni di Blitar, ujarnya. Dalam sebulan, alat musik bikinannya menyumbang omzet Rp 75 juta. Purwacaraka juga kerap membeli alat musik dari saya, pungkasnya ceria.

Pertahankan daya saing (CEO TALK ) Made Dana Tangkas

   Pertahankan daya saing
Di tengah inflasi tinggi dan nilai tukar rupiah yang merosot, banyak kalangan masih optimistis dengan pasar otomotif nasional. Gaikindo belum merevisi target 1,1 juta unit. Lagi pula Indonesia jadi basis produksi bagi beberapa jenis mobil, seperti dilakukan Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN). Berikut strategi TMMIN seperti dituturkan Made Dana Tangkas, kepada Hendrika Y. dan Carel Agus dari KONTAN di Jakarta, Rabu (21/8)

Saat ini Toyota Motor Manufacturing Indonesia memproduksi beberapa kendaraan, yakni Toyota Innova (produksi tahun ini 82.900 unit), Fortuner (67.500 unit), Etios Valco (13.500 unit), dan Nav1 (3.500 unit). Jadi total target produksi kami pada tahun 2013 adalah sekitar 167.000 unit.
Dari jumlah produksi tersebut, sebanyak 40% kami ekspor, dan sisanya untuk memenuhi permintaan pasar domestik.  Jika dibandingkan dengan tahun lalu, memang ada peningkatan produksi, karena tahun 2012 kami memproduksi 155.000 unit mobil. Demikian pula dengan alokasi ekspor yang mengalami kenaikan sedikit, karena tahun lalu angkanya tidak sampai 40% .
Mobil yang paling banyak diekspor yakni Fortuner dan Innova ke Timur Tengah.  TMMIN adalah basis produksi untuk Innova dan Fortuner, yang dibuat di Pabrik I Karawang. Adapun total kapasitas produksi pabrik TMMIN sekarang adalah 250.000 unit per tahun, tanpa over time.
Kami selalu memonitor kondisi makroekonomi yang ada, sehingga jika diperlukan kami bisa melakukan penyesuaian. Hanya, sampai kini kami masih tetap pada target seperti di atas. Karena rencana produksi ini tidak hanya menyangkut pasar domestik, namun juga ekspor. Untuk pasar dalam negeri, TMMIN bekerja sama dengan Toyota Astra Motor untuk memberikan pilihan bagi konsumen, demi mempertahankan daya saing kami di pasar otomotif nasional.
Demikian pula dalam merencanakan ekspansi. Salah satu rencana ekspansi kami adalah pembangunan pabrik mesin dalam waktu dekat, dan diharapkan dapat mulai beroperasi pada semester pertama 2016.
Kami telah membeli lahan seluas 150 hektare di Karawang, dekat dengan pabrik TMMIN, untuk mendirikan pabrik mesin. Investasi untuk pabrik mesin ini adalah sekitar Rp 2,3 triliun, dengan kapasitas produksi sebesar 216.000 unit setahun.
Nah, dalam menjalankan bisnis ini, terutama di sektor manufaktur, kami masih menghadapi beberapa kendala. Misalnya infrastruktur. Pelabuhan dengan satu window ternyata masih belum memadai untuk ekspor impor, sama seperti jalanan menuju ke pelabuhan yang masih memprihatinkan.
Pasokan gas dan listrik di Jawa Barat ini juga belum maksimal, bagi sektor manufaktur. Memang, sudah ada perbaikan dibanding sebelumnya, tapi perlu ditingkatkan. Untuk sementara ini, karena pengaturan produksi sudah jauh-jauh direncanakan, kami belum terganggu dengan pasokan gas dan listrik, karena kami memproduksi sesuai kapasitas yang ada.
Untuk mengatasi kendala infrastruktur, dan pasokan energi, kami bekerjasama dengan asosiasi seperti Gaikindo, Kadin, Apindo. Dengan begitu kami bisa melakukan komunikasi dengan pihak terkait untuk mencari solusi.
Selain itu ada isu ketenagakerjaan. Kami perlu memperhatikan isu upah dan insentif yang menarik yang diberikan oleh negara lain, untuk sektor yang sama. Ini menjadi tantangan, yakni bagaimana mempertahankan daya saing. Hal inilah yang perlu kita kembangkan di kemudian hari.
Budaya blusukan
Untuk meretensi pekerja, kami menyelenggarakan forum bipartit dan tripartit. Kami juga menyediakan banyak saluran bagi karyawan untuk berkomunikasi dengan manajemen, misalnya free talk activity dan personal touch. Free talk ini menjadi forum karyawan menyampaikan unek-unek pada atasan langsung, yang lantas disampaikan berjenjang. Dengan begini, permasalahan langsung diketahui.
Kami juga mengembangkan kegiatan Idea Suggestion, sehingga ide karyawan itu dihargai oleh perusahaan. Karyawan bisa memberikan ide bidang lingkungan, pengurangan biaya dan sebagainya. Ide ini akan dikaji dan diterapkan oleh manajemen, sedangkan karyawan akan mendapatkan insentif.
Salah satu yang diterapkan adalah penggunaan sistem navigasi untuk lalu lintas barang. Dengan begitu, kami tidak perlu investasi mesin yang mahal, karena cukup menggunakan gaya gravitasi saja.
Contoh lain adalah cost reduction, seperti pengurangan panjang pegangan gun untuk mengelas, dari lima meter menjadi tiga meter saja. Itu ide dari karyawan. Kami juga menggelar kompetisi di perusahaan untuk Idea Suggestion.
Di TMMIN, kami mempunyai visi, misi, tujuan, yang mengacu pada filosofi Toyota Way. Ada lima nilai utama. Yakni challenge, karena setiap perusahaan harus punya tantangan mau ke mana lima atau sepuluh tahun lagi. Hal ini harus kami rumuskan, lengkap dengan problematika yang terjadi.
Nilai berikutnya adalah kaizen, atau perbaikan yang terus menerus, demi pengembangan perusahaan. Lalu genchi genbutsu yaitu harus go and see ketika terjadi masalah, seperti blusukan.
Waktu ada masalah, kita harus datang ke lokasi atau real place, selanjutnya mencari tahu yakni real fact, dan real thing, melakukan sesuatu. Itu harus dilakukan oleh semua level, dari supervisor sampai presiden direktur. Jadi tidak ada direktur yang duduk di meja menanti laporan.
Keempat adalah respect to people dengan membuat sistem kerja yang aman, ergonomis, nyaman. Terakhir adalah team work dengan antardivisi, antarbagian, termasuk ke dealer dan supplier. Lima nilai ini diterjemahkan ke dalam Hoshin Kanri atau kebijakan perusahaan dan dijabarkan sampai function action plan bagi 7.000 karyawan TMMIN.
Untuk aspek respect perlu perhatian khusus, karena ketidaksiapan sumberdaya kita sehingga problem solving kadang tidak cocok. Maka, harus ada kesadaran dan melatih karyawan, sehingga reaksi dan gerakannya lebih cepat dan proaktif. Ketika sumber daya manusia tidak siap, mungkin kecepatan bisnis dengan kecepatan produksi tidak sinkron.
Hal ini tidak hanya kami terapkan di dalam perusahaan, namun juga bagi supplier karena kami didukung banyak supplier. Untuk komponen tier 1 saja ada sekitar 100 supplier, selanjutnya tier 2 dan tier 3 itu lebih banyak lagi.  Maklum saja, untuk memproduksi satu unit mobil bisa melibatkan lebih dari 2.000 komponen.
Dengan supplier, kami itu seperti partnership jangka panjang. Pertama kali mereka mengawali dari proses gambar yang diwujudkan, lantas ada uji coba sampai mencapai standar kualitas yang kami harapkan. Hal ini tidak hanya pada produknya namun juga pada proses dan manajemennya.
Semua hal ini dilakukan sebelum produksi. Misalnya untuk supplier komponen Etios Valco, proses ini bisa kami lakukan sembilan bulan sebelumnya.
Produk yang bagus bisa didapatkan jika sumber dayanya juga bagus. Jadi ada tiga prinsip di sini, yakni built in quality, kedua membangun kualitas dengan inspeksi dan ketiga audit untuk statik dan dinamik.
Contohnya audit dinamik untuk power window, bisa kami tes ribuan kali sampai berjam-jam. Hal inilah yang kami jalankan kepada para supplier. Kerja sama ini sekarang berjalan dengan baik dan lancar. Jika ada masalah, kami bisa langsung memberi feedback kepada supplier.

Sukses mempopulerkan fesyen dari songket (1)

 Sukses mempopulerkan fesyen dari songket (1)
Kecintaan pada kain tradisional songket membawa Nyanyu Nur Komariah sukses berbisnis fesyen. Di bawah bendera Rumah Songket Adis, ia ikut melestarikan serta mempopulerkan kain songket hingga ke luar negeri.

Perempuan yang akrab disapa Adis ini merintis bisnis kain khas Palembang itu sejak tahun 2007 silam. Namun, tidak seperti kebanyakan pengusaha songket lainnya di Palembang, Adis tidak hanya berkutat pada kain songket. Ia juga memproduksi jumputan, yang juga kain tradisional Palembang.

Bahkan, kain tersebut diolahnya menjadi selendang dan pakaian. "Desainer ternama sudah sering memakai kain tradisional untuk pakaian rancangan mereka, jadi saya pikir, saya bisa mengikuti jejak mereka," kisahnya.

Semua pakaian yang diproduksi di Rumah Songket Adis merupakan desainnya sendiri. Maklum, kata Adis, keberadaan desainer songket masih sangat minim. Kebanyakan pengusaha kain hanya memproduksi songket dan jumputan.

Pakaian songket buatan Adis laris manis di pasaran. Dalam sebulan, ia bisa menghasilkan 150 - 200 item baju dari bahan songket. Selain itu, songket masih menjadi favorit yang dicari konsumen. Buktinya, Rumah Adis Songket bisa menjual sekitar 50 kain songket dalam sebulan.

Perempuan kelahiran Palembang, 29 tahun silam ini menuturkan, ia fokus pada produksi kain untuk segmentasi kelas menengah ke atas. Makanya, ia menggunakan benang kualitas pilihan.
Tak heran, harga jualnya pun terbilang tinggi. Satu lembar songket dibanderol Rp 3 juta hingga Rp 15 juta. Meski begitu, ia juga memproduksi songket dengan kualitas benang nomor dua. Harganya lebih murah, berkisar Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta.

Sementara, satu potong pakaian dari kain songket dilego mulai dari Rp 600.000 sampai Rp 4 juta. Adis juga membuat baju kombinasi songket dan bahan kain seharga Rp 1 juta. Oleh karena mendesain sendiri, setiap baju yang diproduksi Adis bisa disebut edisi terbatas. "Jadi, tidak akan ada toko lain yang produksi baju yang persis sama," klaimnya.

Sekitar 80% pelanggan Rumah Songket Adis ialah perempuan. Namun, ia memiliki pelanggan di Malaysia yang kerap membeli selendang dan kemeja kombinasi untuk laki-laki. Hingga kini, sejumlah public figure pernah memakai desain songket karyanya, seperti Mooryati Soedibyo, Anwar Fuadi, dan Izabel Jahja.

Adis mendistribusikan produknya melalui sistem reseller untuk kain songket. "Saya sudah mulai sistem ini sejak empat tahun lalu, reseller saya kebanyakan di kota besar, seperti Jakarta, Medan, Bandung, dan Riau," ucapnya.

Demi memperluas pemasaran, Adis rajin ikut pameran dan promosi di majalah, serta mengikuti pameran fesyen di berbagai daerah di Indonesia. Tak heran, ia bisa mengantongi omzet Rp 150 juta-Rp 200 juta sebulan.

Alhasil, Ia pun terpilih menjadi salah satu pemenang Wirausaha Muda Mandiri untuk kategori Kreatif pada 2012 silam. (Bersambung)  
sumber Kontan

LIPI luncurkan telepon pintar `Bandros` Anti Sadap

bandros lipi di indonesiaproud wordpress com Ponsel ini dipakai untuk kegunaan khusus, salah satunya bisa diatur sebagai telepon anti sadap
 
Jakarta (ANTARA News) - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia meluncurkan ponsel pintar Bandros atau Bandung Raya Operating System sebagai salah satu hasil penelitian unggulan.

"Ponsel ini dipakai untuk kegunaan khusus, salah satunya bisa diatur sebagai telepon antisadap," ujar Kepala Pusat Penelitian Informatika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) LT Handoko di Puspiptek Tangerang Selatan, Senin.

Sebagai ponsel pintar yang dapat diatur menjadi antisadap, maka ponsel ini hanya dipakai untuk kegunaaan khusus terutama untuk segmen pemerintahan.

Handoko menjelaskan bahwa LIPI membuat ponsel pintar ini sesuai dengan pesanan dan kebutuhan serta fungsi, dan ditujukan untuk pemerintah serta korporat.

Lebih lanjut Handoko memaparkan bahwa para peneliti LIPI mengembangkan piranti lunak Bandros pada awalnya ditujukan untuk pasien rumah sakit dan pemberian informasi perihal sistem peringatan dini.

Handoko sebagai ketua tim penelitian pengembangan Bandros menjelaskan bahwa ponsel cerdas tersebut menggunakan sistem operasi (OS) `open-source` berbasis Linux.

Penelitian sistem operasi ini baru dimulai pada 2010, dengan melakukan penelitian tergadap perangkat sistem tertanam.

Sistem operasi tersebut dia jelaskan sebagai pengembangan dari sistem operasi `desktop` yang sudah diciptakan sebelumnya.

"Sistem operasi Bandros dikenalkan kepada masyarakat diawali dengan pengembangan Stasiun Pemantau Cuaca," jelas Handoko.

Pengembangan sistem operasi ponsel ini dibiayai oleh APBN melalui Dipa Pusat Penelitian Informatika - LIPI, dengan dana awal yang direncanakan Rp250 juta namun pada akhirnya hanya sekitar Rp50 juta yang diberikan dengan alasan penghematan anggaran. (M048/Z002)

Editor: B Kunto Wibisono

sumber Antara

Membuat Telinga Tiruan dari Tulang Rawan Domba

Gambar di atas memperlihatkan bagaimana proses pembuatan telinga buatan dari tulang rawan domba yang dikembangkan para peneliti dari Massachusetts General Hospital. Telinga buatan ini diharapkan akan membantu mereka yang mengalami cacat bawaan.
Keinginan untuk bisa membantu orang yang memiliki cacat bawaan membuat para ilmuwan berusaha menghasilkan alat bantu. Yang terakhir, ilmuwan berhasil membuat telinga buatan yang serupa dan bekerja layaknya telinga manusia asli, hanya dengan menggunakan printer3D dan tulang rawan domba.

Telinga buatan ini diciptakan oleh Thomas Cervantes, dari Massachusetts General Hospital, bersama koleganya. Telinga model digital dalam bentuk 3D ini dirancang dan diciptakan dari bantuan para ahli bedah plastik wajah yang membantu penelitian ini guna mendapatkan bentuk dan proporsi yang sesuai. Model ini dibuat dengan menumbuhkan beberapa sel tulang rawan domba yang kemudian disesuaikan dalam model kustom di bawah kulit tikus untuk percobaan.

Kemudian seuntai kawat diselipkan dalam cetakan guna memberikan implan bentuk, dan membuatnya menekuk agar lentur layaknya telinga manusia. ”Semua implan dapat diterima dengan baik. Implan dipasangi kawat agar dapat menyerupai telinga manusia sempurna, sedangkan implan tanpa kawat nantinya akan terdistorsi,” ujar Cervantes, seperti dikutipDaily Mail. Kemudian, model yang telah dihasilkan dicetak dalam polydimethylsiloxane, senyawa silikon khusus untuk membuat cetakan yang terbagi sepanjang kontur luar, sehingga memiliki dua bagian.

Sementara itu, cetakan diisi dengan kolagen sapi yang memiliki protein alami guna memberikan elastisitas kulit dan kekuatan. Lalu, semuanya digabungkan dengan memanen sel tulang rawan domba. ”Hasilnya, permukaan di kedua sisinya terlihat putih berkilau, dan terlalu mirip dengan tulang rawan. Telinga buatan yang dikonstruksikan dengan kerangka kawat tertanam telah meningkatkan ukuran dan bentuk asli. Implan yang fleksibel,” lanjut Cervantes.

Menurut ilmuwan yang terlibat, model telinga buatan ini dapat didefinisikan bahwa mempunyai muatan yang cukup dalam kurva dan garis bahkan ketika menjadi satu dengan lapisan kulit. Agar telinga buatan ini dapat diaplikasikan dalam operasi transplantasi, kini para ilmuwan tengah bersiap untuk melakukan uji klinis. Dengan penyesuaian teknologi, ilmuwan percaya dan mengklaim bahwa akhirnya mereka bisa menggunakan proses dalam temuannya ini untuk menghasilkan telinga yang begitu nyata untuk pasien yang membutuhkannya dalam rentang waktu yang cepat.

”Kini telah dikembangkan teknologi untuk uji klinis, karena dengan demikian kita dapat meningkatkan dan mendesain ulang fitur yang menonjol guna menyesuaikan ukuran telinga manusia dewasa dan mempertahankan penampilan estetika bentuk mereka setelah implantasi dilakukan,” ujar para peneliti. Temuan yang telah diterbitkan dalam Journal of Royal Society Interface ini menjelaskan, setiap tahun ribuan anakanak lahir dengan kelainan bawaan yang disebut dengan microtia (kelainan pada telinga ketika telinga eksternal belum sepenuhnya terbentuk).

Selain itu, banyak pula yang memiliki telinga utuh namun mengalami kehilangan pendengaran karena struktur eksternalnya hilang. ”Hasil analisis yang berbentuk kuantitatif ini telah mengidentifikasi peluang untuk memperbaiki bentuk dalam rekayasa konstruksi telinga,” papar peneliti.

Sebelumnya, tim yang sama telah melakukan sebuah penelitian dengan bukti konsep menggunakan sel tulang rawan dari tikus yang dicetak memakai kolagen berbentuk telinga. Namun, ini hanya dianalisis dalam bentuk 2D. wenny juanita

Pemimpin harus tahu saat bisnisnya sudah cukup

 Pemimpin harus tahu saat bisnisnya sudah cukup
Berbeda dengan para pebisnis yang selalu menetapkan target bisnis setiap tahun, saya memilih tidak melakukannya. Saya membiarkan bisnis saya seperti air mengalir saja.
Kunci usaha saya adalah anak-anak bisa mengelolanya. Mereka betah ikut saya selama 35 tahun, bahkan ada yang 40 tahun masih terus ikut. Bagi saya, mereka bukan karyawan, melainkan anak-anak.
Ini juga yang membuat Kemchicks tetap eksis di tengah-tengah serbuan gajah-gajah ritel yang ada sekarang ini. Mereka merasa memiliki dan mengelola bisnis Kemchicks.
Saya percaya bahwa anak-anak punya kemampuan, bahkan lebih besar dari saya. Mereka bisa menentukan apa yang mereka mau. Tidak harus menjadi seperti saya.
Saya bukan tipikal pemimpin atau orang tua yang over protektif. Saya juga tak kejam ke anak-anak. Itu tidak ada dalam kamus saya. Mereka tak harus meneruskan bisnis saya. Mereka bisa memilih apa yang mereka mau.
Makanya, ketika anak saya minta sekolah perhotelan, saya mencarikan sekolah perhotelan yang terbaik di dunia, Swiss. Satunya lebih tertarik sekolah perhotelan di Singapura. Saya membebaskan mereka memilih apa yang mereka inginkan.
Apakah kemudian mereka juga terjun ke perhotelan, saya tidak tahu. Saya memilih tidak perlu ikut campur dengan urusan mereka. Bukan abai, toh saya dekat sekali dengan mereka. Itu pilihan mereka yang harus mereka pertanggungjawabkan.
Ini sama halnya saya mengelola Kemchicks. Anak-anak bekerja sesuai yang mereka inginkan dan targetkan. Kalau ingin maju, mereka akan mengupayakan. Cuma satu hal yang saya perhatikan: bisnis mereka harus sehat. Kelakuan mereka juga harus sehat. Untuk memastikan itu, saya terus memantau agar bisnis dan kelakuan mereka tetap sehat. Prinsip saya, selama mereka bahagia, saya pasti bahagia.
Anak-anak adalah produk zaman sekarang. Ini berbeda dengan anak-anak pada zaman saya. Mereka punya cara berbisnis yang berbeda dengan zaman saya. Tugas saya hanya mengalirkan budaya dari orang tua yang dialirkan ke saya dan kemudian saya teruskan ke mereka.
Saya dan anak-anak paham yang namanya bisnis ada untung dan rugi. Tidak bisa selalu untung, atau sebaliknya tidak selamanya merugi terus. Banyak pengusaha yang menjual usahanya yang dalam kondisi rugi, saya tidak begitu. Justru kalau merugi tidak saya jual karena saya tak ingin menyengsarakan orang lain. Seperti Kemfood yang saya jual, itu  perusahaan yang bagus. Banyak yang minta padahal saya tidak pernah menawarkan. Proses negosiasinya pun berlangsung sangat singkat.
Cuma, apakah itu artinya saya tidak mengalami problem dalam bisnis? Saya bilang: tidak ada bisnis yang tidak ada problem.
Logika  bisnis saya memang berbeda dari pengusaha lain. Saya percaya setiap aksi ada reaksi, ada sebab ada pula akibat. Mereka semua menuju dua arah, positif dan negatif. Dari pengalaman saya, semua bisnis menghasilkan dua arah itu. Dan, kita tidak bisa hanya mengambil satu sisi yakni  yang positif saja. Dua-duanya harus kita ambil.
Hal terpenting menjadi pemimpin adalah tahu saat sudah cukup. Tahu saat berhenti. Saya merasa, orang zaman sekarang bilang cukup itu susah. Orang yang kaya, dari bangsa atau suku apa pun, tidak ada yang merasa cukup. Mereka mau bertambah besar lagi. Saya merasa sudah cukup, dan ini membuat saya bahagia.

Laba nan cantik terselip dalam cake in jar

Laba nan cantik terselip dalam cake in jar
Pilihan wadah unik untuk mengemas kue, ternyata bisa menerbitkan peluang usaha baru. Tengok saja, cake in jar yang sedang naik daun belakangan ini. Tren baru ini pun mengantarkan laba yang semanis tampilannya.

Ide kreatif memang bisa datang dari mana saja. Apalagi, ide bisnis seputar produk makanan. Banyak hal yang bisa digali untuk menciptakan tren hingga pasar yang baru.

Salah satunya, penggalian ide seputar pilihan kemasan sebagai wadah kue atau roti, seperti yang terlihat dari cake in jar. Roti atau cake yang ditaruh dalam stoples selai ini sedang naik daun, atau banyak dipesan oleh pecinta cake tanah air.

Padahal, ide cake in jar ini berangkat dari keinginan untuk menyajikan sekaligus menyimpan kue secara praktis. “Terutama, jika cake tak langsung habis dalam sekali makan, biarpun sudah berupa potongan,” kata Carina Vega, pemilik Velvet Cakes dan Bakes, produsen cake in jar.

Selain memudahkan penyimpanan, menikmati cake yang ditaruh dalam wadah stoples ini, tidak membuat tangan kotor. Tania Erniyati, produsen cake in jar bermerek Aliyya Annah, berujar bahwa banyak pelanggan memesan cake in jar lantaran alasan lebih praktis dan sederhana. “Terutama bagi mereka yang ingin bepergian atau cake tak langsung dinikmati,” tambah dia.

Selain itu, karena dikemas dalam stoples yang kedap udara, tanpa lemari pendingin, cake in jar bisa tahan selama dua hari. Sementara itu, jika disimpan di kulkas, masa simpan bisa lebih lama atau hingga dua minggu. Jenis cake yang bisa dikemas dalam stoples selai biasanya adalah jenis butter cake karena teksturnya pas, tidak terlalu keras dan tidak terlalu lembut.

Penggemar cake in jar pun terus bertambah. Tania bisa melayani pemesanan sekitar 40  stoples hingga 50 stoples cake in jar dalam sehari. Ia membanderol produknya mulai Rp 30.000 untuk semua varian.

Carina mengalami situasi yang tidak jauh berbeda. Ia membuat hingga 200 stoples dalam seminggu. Banderol harga kue dalam stoples Carina Rp 35.000 per stoples.

Alhasil, mereka pun bisa mengantongi omzet mulai dari Rp 20 juta hingga Rp 24 juta dalam satu bulan. Marginnya cukup tebal. “Dalam sebulan, saya bisa mendapat untung bersih sekitar Rp 10 juta,” cetus Tania yang baru mengawali bisnis ini Mei 2012 silam.


Punya ciri khas

Usaha ini tidak membutuhkan modal yang besar. Berawal dari hobi membuat kue dan cake, Tania mengawali usaha berbekal mixer dan oven dengan kapasitas kecil. “Saat itu, semua saya kerjakan sendiri,” kata Tania yang kini dibantu oleh seorang asisten.

Ia memperoleh resep cake in jar dari hasil menjelajahi berbagai situs internet. “Saya belajar dari resep dan mengembangkan sendiri,” tutur dia. Pada awalnya, ia hanya mengandalkan promosi dari mulut ke mulut.

Baru pada Mei 2012, setelah roda usahanya berjalan makin mantap, Tania mulai menawarkan cake in jar melalui situs. Lantas, ia membeli oven lebih besar yang bisa memuat 100 stoples berukuran 250 gram, dalam sekali panggang. Waktu itu, harganya Rp 13 juta.

Sementara itu, bagi Carina, usaha cake in jar ini sejatinya merupakan pengembangan dari usaha cupcakes miliknya. Namun, kini, cake in jar yang justru menjadi andalan Carina.

Berbagai varian cake milik Carina adalah Rockball, Dulche de Leche, Cotton Candy, Noir Vixen, Vellutata di Formagio. “Konsumen banyak yang suka dengan menu Rockball kami lho,” ujar perempuan yang berjualan melalui situs www.velvetcakesandbakes.com dengan bangga. Menu cake in jar lain yang diandalkan Carina dan sudah akrab di lidah adalah Rainbow dan Red Velvet.

Kiprah Tania beda lagi. Melalui situs www.dapuraliyyaanahla.blogspot.com, ia menawarkan beberapa menu jar cake seperti Choco Malt Cream, Choco Overdark, Black Forest, Double Chocolate, Choco Velvet, Cake Pumpkin hingga cake pisang. “Ciri khas saya adalah cake in jar yang tidak menggunakan perasa dan pewarna buatan. Jadi saya menggunakan perasa dan pewarna alami dari buah-buahan dan dari cokelat langsung,” tambah Tania.

Rajin belajar resep melalui internet atau dari pemain yang sudah berpengalaman akan mengayakan varian cake in jar milik Anda. Jangan lupa, pilih ciri khas Anda dalam berjualan cake in jar ini agar konsumen makin tertarik.

Bahan utama dalam pembuatan cake in jar ini tidak jauh berbeda dengan cake lainnya. Nah, untuk stoplesnya, sebaiknya pilih jenis yang kedap udara. “Pilih stoples untuk ASI saja, biar kualitasnya bagus dan memiliki tutup yang rapat,” terang Tania. Ia biasa membeli stoples-stoples ini di toko pecah belah, seperti Kedaung.

Karena sampai saat ini kebanyakan pebisnis cake in jar hanya melayani pesanan, urusan pengantaran menjadi penting. Tania maupun Carina berpesan, mencari jasa kurir yang bisa diandalkan untuk mengantar cake in jar ke pelanggan. “Karena tidak semua konsumen bisa mengambil,” kata Tania.

Sebaiknya, pilih kurir yang khusus menyediakan jasa pengiriman kue. Jasa kirim ini berkisar Rp 25.000 untuk alamat di dalam Jakarta serta antara Rp 50.000 hingga Rp 75.000 di untuk kawasan Jabodetabek.

Jika belum membuka gerai sendiri, untuk mengenalkan produk ke pasar, ada baiknya rajin mengikuti pameran kuliner yang bisanya diselenggarakan di pusat-pusat belanja. Cara lainnya adalah menerima pesanan skala besar. Berikan diskon jika diperlukan.

Jurus ini yang dijalankan Carina. Saat ini, ia juga menerima order dari hotel dan acara pesta. “Bisa saya hias dan beri nama sesuai dengan pesanan mereka kok,” papar Carina.

Bentuk yang unik dan sedap dipandang mata, membuat produk ini cocok untuk dijadikan hadiah. Tak jarang konsumen meminta kepada Carina dan Tania untuk menyelipkan kartu dan hiasan di kue pesanan mereka yang bertuliskan pesan seperti ucapan selamat ulang tahun dan banyak lagi. Tak sungkan, mereka menyediakan fasilitas kartu dan pita jika ada permintaan khusus seperti itu. ”Asal pintar mengombinasikan warna saja,” ujar Tania.  

sumber kontan